Selasa, 09 April 2013

CARA BERTERNAK BURUNG MERPATI (METODE BREDING I)

 
METODE BREDING 
Kenapa ternak kita hasilnya acak-acakan dan banyak yang dibuang Hasilnya tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun… Kebanyakan peternak di Indonesia sangat fanatik dgn trah burung juara. Juara VS Juara, tapi anakannya tidak ada yg juara… Ini menimbulkan pertanyaan tersendiri...
Salah satu penyebabnya mungkin krn indukan kita geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan juga. Itulah sebabnya diperlukan ternak dgn "rekayasa genetik" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yg lebih terpadu, tersistematis atau terpola dengan baik.
Buat rekan - rekan sekalian, ini ada sedikit pengetahuan mengenai teknik breeding (beternak) dgn cara yg lebih sistematis sehingga bisa juga disebut sebagai ‘Rekayasa Genetika’.
Tulisan ini dikutip dari sebuah artikel karangan Steven van Breemen berjudul Mini Course The Art of Breeding dari web site nya :
http://www.stevenvanbreemen.nl/en/?Home.
Mr. Steven ini adalah penggemar merpati pos. Tapi saya rasa, cara ternaknya bisa juga diterapkan pada merpati balap atau tinggian yg ada di Indonesia.

Sebelum dilanjut, ada baiknya kita mengenal dulu beberapa kosa kata yg ada dalam artikel ini agar tdk terjadi salah penafsiran.
1.        Inbreed : Perkawinan antara dua individu yg memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu : Ibu dgn anak, bapak dgn anak dan anak vs anak.
2.        Line breed : Perkawinan dua individu yg memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contoh : Kakek vs cucu, paman vs keponakan, dll.
3.        Cross breed : Perkawinan antara 2 individu yg tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya terlalu jauh.
4.        Super breed : Individu yang selalu mampu menurunkan sifat2 terbaik pada keturunannya.
5.        Super racer : Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba.

Berikut ringkasan Mini Course The Art of Breeding :
Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics". Tujuan metode ini adalah membangun suatu populasi burung yang ada dalam kandang kita dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 50 burung di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super racer.
Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yg
dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dgn detail.
Menurut Mr. Steven, bila kita sukses mengembangkan metode ini, maka kita akan ongkang ongkang kaki bisa menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!
Teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh breeder yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan. Jadi harus diawali dengan suatu angan-angan tentang kualitas burung yg nantinya ingin kita hasilkan.
Berikut penerapannya di lapangan :
Tahapan ternak berdasar teori ini :

1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II


1.   Cross breed I
Sebelum mulai ternak, kita harus berkhayal dulu. Berkhayal tentang seperti apa typical karakter pembalap terbaik yang kita idam2kan. Bukan sekedar ikut2an hanya melihat burung2 juara yang ada. Burung juara belum tentu sempurna. Maka khayalan kita harus jauh lebih bagus dari sekedar burung juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita cita yang harus dicapai, bagaimanapun sulitnya.
Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan sesuai dgn kriteria khayalan kita tsb. Memakai burung juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal comot!!!. Burung juara banyak ragam typikal kerjanya. Misalkan ingin punya burung dgn tembak keras, maka carilah burung juara yg tipikal kerjanya tembak keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yg keturunan burung tembak.
Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul burung2 dgn karakter tembak keras secara merata pada anakannya.
Cross breed 1 ini sy anggap tahap yg paling penting utk pondasi tahapan breeding berikutnya. Hasil anakan 75% harus rata karakternya. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari set back yg bisa membuang waktu percuma.

2.   Inbreed :
Tujuan inbreed adlh mencetak breeder (parental stock) yg menyatukan sifat2 positif yg dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya (dominan).
Hasil inilah yg sy sebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan kita yg sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki ‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo. Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk parental stock, bukan untuk dijadikan pembalap. Syukur2 kalo ternyata hasilnya bisa jadi pembalap. Pada akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan berikutnya.

3.   Line breed :
Setelah dapat modal dari inbreed, diperkuat lagi dgn line breed. Bila dipasangkan (misalnya) dgn paman yg punya tembak keras, hasilnya sudah bisa dipastikan : burung dgn karakter tembak sempurna yg sangat dominan. Mungkin inilah yg dimaksud oleh Steven sebagai 'super breed'. Yaitu burung yg memiliki daya turun breeding yg kuat thdp anak2nya.

4. Cross breed 2 :
Super breed ini boleh dicoba utk disilang dgn burung dari trah lain (cross breed ke 2). Tujuannya utk menambah daya vitalitas dan menyempurnakan karakter. Kalau di cross dgn burung lain yg tembak keras, hasilnya pasti burung dgn tembak sempurna. Kalau di cross dgn burung yg sifatnya agak berbeda, -tembak sekedar rapi misalnya- maka tembak kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap burung dgn tipikal tembak keras dan rapi. Inilah yang dimaksud Mr. Steven sebagai ‘Super Racer’.

Beberapa prinsip yg harus dipahami :

1.        Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pake saja istilah "geno-type") , bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type). Dgn kata lain, tujuan teori ini adlh menciptakan ‘super ‘breeder’.

2.        Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/ karakter 2 burung yang berbeda, baik karakter yang positif maupun negatif. (Ingat, tidak ada burung yg sempurna). Oleh karenanya rumus inbreeding adalah "the best vs the best". Mas Breemen memakai istilah super breeder vs super breeder. Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yg dapat mendukung "khayalan" kualitas burung yg ingin dihasilkan dari ternak kita. Misalnya kalau kita menghayalkan bahwa hasil ternakan kita harus galak, maka cari indukan yg galak. Kalau sekarang belum memiliki atau belum mampu memiliki indukan yg "ideal", menurut saya tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui cross-breeding.
Mungkin ada yg bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dan nggak perlu repot-repot pake teori population genetics?? Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder yg kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar yg gagal mempertahankan standard kualitasnya dan terus menurun.
Dan banyak burung-burung juara yg terputus generasinya.

3.        Cross-breeding yg pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yg berbeda sedangkan cross-breeding yg kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi racer dan untuk memperbaiki kualitas darah yg sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yg sudah ada).

4.        Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi yg ekstra ketat. Beberapa waktu yg lalu ada pendapat yg mengatakan untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli "membunuh" burung. Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa anakan yg akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara ketat.

Myron Kulik menyarankan, pilihlah anak betina yg mirip bapaknya dan anak jantan yg mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip secara fisik, tapi yg lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau secara fisik juga mirip ya tidak apa-apa). Di sini lagi-lagi diperlukan "feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi.

Agar kita bisa melakukan seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita teteskan 5 pasang, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang yg akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak pilihan yg akan diseleksi, akan semakin bagus.

5.        Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (burung hasil inbreeding menunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada burung hasil in-breeding berarti effek dari inbreeding itu lebih bagus.  Burung hasil inbreeding tidak cocok untuk lomba, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding. Turunannya nanti yang dimainkan.

Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding di-cross dengan burung lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas dan kekuatan.

Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain.
Menjodohkan bapak dan anaknya yg cewek atau ibu dengan anaknya yg cowok lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya dampaknya berbeda).

 
BREDING SEPERTI APA UNTUK MENDAPATKAN BURUNG BERKUALITAS

Breeding tergantung niatnya mau buat apa anaknya nanti. Kalo buat parental stock, baiknya cari yg sama, tembak VS tembak, atau sprint vs sprint. Sifat anaknya pasti kuat, baru nanti di cross lagi sama yg lain type.
Kalau beda type : Tembak VS sprint, sah2 aja kalau kita memang mau ambil resiko. anaknya bisa banyak kemungkinan. Bisa bagus, biasa2 aja atau malah jelek. Kalo menurut saya, idealnya burung yang di breeding adalah Jantan burung juara / ada prestasi, betinanya saudara juara atau anak juara.

Kalo soal sistem breeding, apakah cross breed, atau in line breeding.......semua kembali kepada tujuannya kalo cross breed, sifatnya try and error / coba-coba. kalo in line breeding, bertujuan mempertahankan gen yang dominan yang dimiliki pembalap. Sehingga nantinya akan muncul pembalap2 yang memiliki tipe dan kualitas yang seragam kebanyakan tujuan dr ILB adalah utk memurnikan keturunan dr Indukan(Jantan) yg kita punya, dgn alasan utk mendapatkan merpati jantan yg jenis/trahnya(sifat,gaya  terbang, mental,dll) yg paling mendekati dgn indukannya aslinya, dikarenakan krn usia merpati  Jantannya yg lama2 semakin tua biasanya yg akan diturunkan adalah yg jantan krn yg paling gampang dinilai adalah merpati jantan, dan s/d saat ini baru merpati jantan yg dipakai utk aduan, sehingga bisa dengan jelas dinilai kualitasnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan bahwa  teori gen keturunan didapat bahwa gen yg diturunkan oleh kedua indukan jantan dan betina yang berbeda trah tidak 100%  yg mampu diturunkan, tetapi merupakan campuran dari kedua indukan yg diturunkan, bisa 50-50, bisa 75-25 bisa 25-75 bahkan 90-10 dan 10-90 dsb...
maka biasanya dr sepasang merpati (X/jantan dan Y/Betina) tsb diambil beberapa anakannya(F1) jantan dan Betina dan dilihat hasil dr F1 Jantan tsb mana yg paling mendekati dgn trah asalnya..  bila msh blm ada hasil yg mendekati, dicoba lagi diturunkan, yaitu X dan F1 betina, dan menghasilkan anakan2 ke 2 (F2) dan dilihat lagi hasilnya.  begitu seterusnya s/d menghasilkan hasil yg paling mendekati..

Secara gampang dihitung/diilustrasikan dgn perhitungan dari X sifat yg diturunkan ke F1 50-50,  kemudian dicampur lg antara X dan F1(yg sudah ada 50 dari X)  maka diharapkan anakan F2 hasilnya merupakan pertambahan dari F1 yg sdh 50 dr X ditambah 50 lagi dari X, dst....
bisa menghasilkan hasil yg paling mendekati X

Kalo Y yg diturunkan, diitung2 akan malah semakin jauh dari X-nya krn yg semakin bertambah darah dr Y (dgn ilusi seperti diatas) begitu juga kl anak (F1) dgn anak  (F1) ada yg bilang F1 seteluran jangan dicampur, krn kebanyakan akan menurunkan sifat jeleknya, utk hal yg ini tidak ada penjelasan ilmiahnya, hanya berdasarkan pengalaman.  kalo bisa F1 dan f1 yg bukan seteluran... ini pun diperkirakan hasilnya akan semakin sulit diramalkan, bisa jadi semakin menjauhkan dari X..
In line breeding maksudnya perkawinan sedarah atau perkawinan dua individu yg berkerabat. Bisa bapak/anak, kakek/cucu, paman/keponakan, saudara kandung, dll pokoknya yg masih ada hubungan darah, mana yg lebih baik, bapak vs anak betina atau ibu vs anak jantan?
Sepertinya kemungkinananya sama saja mas... sama juga seperti kakek/nenek vs cucu, atau paman/bibi vs keponakan, dll.
(jadi masih dalam katagori mempertahan karakter dari indukan yang kita inginkan)

Tujuan inbreed adalah memurnikan sifat yg dikehendaki. Bisa juga untuk memunculkan sifat yg ada pada leluhurnya dahulu.
Hasilnya, tidak bisa selamanya bagus. Malah memiliki resiko krn memungkinkan justru sifat jeleknya yg berkumpul.
Inbreed yg terus menerus (contoh : antar saudara kandung, anaknya dikawinkan lagi, anaknya dikawinkan lagi, dst) juga bisa menyebabkan kematian, kehilangan kekebalan tubuh, dan pertumbuhan yg kerdil atau aneh. Tapi buat peternak yg berani, hasil inbreed justru bisa menjadi gambaran keadaan genotipe atau sifat sesungguhnya dari indukan. Dan bisa segera mengapkirnya (kalo jelek).

            Dari pengalaman yang sudah pernah dilakukan dalam bereksperimen breeding, hasil ILB bapak-anak atau ibu-anak cenderung menghasilkan anak yang kurang bagus.  Hal ini nampak dari fenotipe (penampilan luar) karena jarang ada yang meneliti sampai ke genotipe(darah) karena akan repot bila harus memeriksa kelab dengan sampel darah!! belom biayanya..... Dari beberapa kali percobaan, anak yang diturunkun sebagian cacat, sebagian lainnya tidak sama dengan ke-2 induknya contoh : kaki burung bisa berbulu, ada lagi yang secara fisik oke tapi waktu dilatih bodohnya minta ampun. Namun ada juga yang lebih bagus dari induknya, baik pegangan dan terbang namun lebih rentan penyakit.

Untuk percobaan Kakek-cucu / nenek-cucu menghasilkan prosentase anak cacat kecil. Tipe anakan cenderung lebih kuat menyerupai kakek / neneknya.
Kesimpulan :
·         perkawinan ayah-anak / ibu-anak lebih cenderung Menyebabkan penyimpangan negatif lebih besar ketimbang positif.
·         ILB lebih aman dilakukan pada 2 generasi kebawah, kakek-cucu / nenek-cucu atau cucu - cucu.
·         Kalo ingin melakukan pemurnian sebaiknya juga persiapan mental, karena selain dituntut kontinuitas dan waktu yang relatif cukup panjang, tidak jarang hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Selain itu juga harus tega, apabila keluar anakan yang cacat, musti tega di musnahkan !! Siap kah anda?? semua kembali kepada tujuan !!


 KETERANGAN :
Ø  In-breed dan line-breed pada prinsipnya sama, yaitu darahnya berasal dari indukan (jantan dan betina/stock parents) yg sama.
Ø  Bedanya, kalau in-breed menyilangkan 2 burung yg mempunyai hubungan langsung seperti bapak/ibu dengan anaknya.
Ø  Sedangkan line-breed lebih dari satu tingkat seperti kakek dgn cucu atau buyut dengan cicit, dan seterusnya. Tetapi tetap tdk ada darah lain yg masuk (penyilangan tertutup). Kalau sudah ada darah lain yang masuk, baik itu jantan maupun betina, sudah termasuk kategori cross-breed.

Hasil menyilangkan/ternak merpati dan hasilnya lumayan bagus dengan sistem Back Crossing Line Breed berdasarkan garis bapak, maksudnya begini Kakek dikawinkan dengan cicit ( F3 atau garis keturunan ke 3) dari garis laki-laki/bapak, supaya mendapatkan darah murni, Caranya adalah :
1.    Kawinkan antara Indukan jantan (X/Darah Murni) dan Indukan betina (Y/Darah Murni) (Cross Breeding)
2.    Ambil anak betinanya (F1)dan silangkan dengan pejantan yang bagus trah /darahnya (Cross Breeding)
3.    Ambil cucu jantan (F2) dari anak betina (F1) dan silangkan juga dengan betina dari darah/trah yang bagus  (Cross Breeding).
4.    Ambil cicit betina (F3) dari cucu jantan (F2) dan silangkan dengan kakeknya (X/Darah Murni), (Back Crossing Line Breed).

Apakah induk Betina cenderung mendominasi gen anaknya..?
Saya rasa
kurang bener ... Anak itu khan hasil campuran sifat ayah dan ibunya...
Sifat ini diturunkan secara acak. Bisa saja 50:50, 70:30, 30:70, 10:90, 80:20, dll, dst... Kita tdk akan tahu berapa persentase dari ayah atau ibunya.
Inilah sebabnya bahkan saudara sekandung sekalipun tidak mungkin sama kombinasi gennya. Maka kualitasnya pasti berlainan.
Jadi, kalau mau ternak sebaiknya ayah dan ibu dari kualitas yg baik. Maksudnya supaya aman, tdk untung2an. Mau ikut bapak Oke... mau ikut ibu juga boleh. Inipun belum tentu menjamin hasil yg sesuai dgn harapan krn harus diperhatikan juga sifat resesif dan dominan dari induknya

Ternak, prinsipnya menyatukan 2 karakter/sifat individu. Dari penyatuan ini diharapkan ke 2 karakter/sifat tsb turun ke anakannya, bersinergy secara harmonis sehingga menghasilkan karakter baru yg lebih berkualitas.
Namun, tiada yg sempurna di dunia ini. Termasuk merpati balap atau tinggi. Sebagus apapun selalu ada kekurangannya.

Di merpati balap, ada burung sprint cepat, tapi tembaknya kurang. Ada juga yg tembaknya bagus, tapi sayang mentalnya jelek. dll, dsb.
Kita sebagai peternak hanya bisa berusaha semaksimal mungkin agar hasil ternakan kita mendekati sempurna.


Untuk itu ada 2 alternatif pilihan yg bisa ditempuh dalam beternak :
1.    Haruskah kita ternak dgn mencari pasangan yg mampu menutupi kekurangan indukan kita..?? atau
2.    Menyadari bahwa tdk ada yg sempurna, dan mencari indukan yg mampu lebih memaksimalkan kelebihan indukan kita..?
Silakan rekan2
pilih sistem beternak / Alternatif mana yg akan anda dipilih ??


Yang dimaksud inbreed itu adalah perkawinan antara 2 individu yg masih mempunyai pertalian hubungan darah (sedarah). Tidak hanya sebatas orang tua dan anak, tapi bisa juga antara 2 saudara kandung.
Tujuan peternak mengawinkan dua individu yang sedarah adalah untuk menghasilkan individu yang memiliki genotipe (sifat) yang homozigot untuk sifat sifat tertentu. Selain itu juga untuk memurnikan sifat yang dikehendaki.
Dapat juga merupakan usaha pemunculan sifat baik dari nenek moyang/orang tua yang bersifat resesif (sulit muncul).
Pada beberapa peternak, perkawinan sedarah digunakan untuk homogenisasi keturunan (penyeragaman). Hal ini sangat diperlukan karena kualitas produk suatu peternak akan diragukan bila dilapangan terbukti bahwa kemampuan burung hasil ternakannya sangat beragam. Pamor peternak akan terangkat bila kualitas produknya hampir seragam (warna bulu, gaya terbang, semangat, mental, tembak, dll).
Kerugian dari perkawinan sedarah yang paling ditakuti adalah munculnya sifat resesif yang merugikan. Namun bagi peternak yang berani ambil resiko, hal ini merupakan suatu keuntungan karena dapat mengetahui keadaan genotipe (sifat) kedua induknya dan dapat segera di upcare. Kerugian lain adalah pertumbuhan dan daya tahan penyakit akan semakin menurun dari generasi ke generasi. Angka kematian tinggi dan kemampuan reproduksi akan menurun

By. Janoko Mozart BF
 Cp. 087733991995

12 komentar:

  1. JAMU SPET

    Numpang promosi Bos-Bos Semua, klamit.
    Harga tepung jamu /ons:
    ginseng 60 ribu
    pasak bumi 25 ribu
    purwoceng 25 ribu
    laos merah 14 ribu
    daun sendok 14 ribu
    umbi teki 16 ribu
    kunyit putih 16 ribu
    kunyit kuning 14 ribu
    temu lawak 14 ribu
    temu kunci 14 ribu
    temu ireng 14 ribu
    tapak liman 14 ribu
    kulit manggis 12 ribu
    kapulogo 50 ribu
    jahe merah 16 ribu
    kencur 16 ribu

    ***BELI DIATAS HARGA 100 RIBU, GRATIS ONGKOS KIRIM (PULAU JAWA).
    ***BISA KIRIM KESELURUH INDONESIA.

    Sedia tepung:
    **JAMU MERPATI KOLONG (campuran 11 rempah).
    **JAMU MERPATI SPRINT BALAP (campuran 14 rempah).

    CARA PAKAI:
    **UNTUK DISPET LANGSUNG KE MERPATI.
    **DIBULATIN PIL MERPATI.

    MANFAAT:
    **MENAMBAH STAMINA.
    **MENAMBAH GIRINGAN.
    **MENAMBAH BIRAHI, UNTUK MERPATI MACET TELUR.
    **MENAMBAH NAFSU MAKAN.
    **MENGOBATI KEMBUNG.
    **MENJAGA KESEHATAN/ ANTIBIOTIK.
    **DLL

    Harga 75 ribu (nego) 200 gram, nyampai alamat (Pulau Jawa).

    ALAMAT: CANDI PUNDONG BANTUL YOGYAKARTA
    Hubungi 087738096581/ 5F6F8146.

    BalasHapus
  2. Apakah JM sudah menyoba menggunahkann breding rekayasa genetic?, dan gimana hasilnya, dan apakah semua burung JM itu menggunahkan materi breding rekaya genetic semua?

    BalasHapus
  3. Mau nyoba in breedbiar tau hasil yg sbnarnya

    BalasHapus
  4. apakah anak hasil inbreed.
    bisa di silang kan dgn kakek ny.
    contoh a x b : c
    a x c : D
    apakah a bisa di silang kan dgn D.
    dampak negatip ny apa
    dampak positip ny apa
    mohon arahan dan penjelasan ny
    saya ucapkam terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. anaknbetina ambil.. D x burung juara 👍🏾

      Hapus
    2. betina cucu burung juara X burung juara hasily
      bagus apa jelek

      Hapus
  5. Sedikit paham banyak pusingnya, ilmu yg bagus dan rumit jg bermanfaat.

    BalasHapus
  6. Jika pelajaran sudah di dalami dan sudah di praktekan,,itu jadinya yaa untung"an

    BalasHapus